Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Operator Telekomunikasi dalam Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa PSBB

SIARAN PERS No. 001/PR/WANTIKNAS/04/2020

Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Operator Telekomunikasi dalam Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa PSBB

JAKARTA, 09 April 2020 — Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan baru untuk menekan penyebaran Covid-19 yang secara resmi diatur dalam PP No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini di antaranya mengatur pembatasan pergerakan dan membatasi interaksi langsung human-to-human yang salah satunya adalah keharusan belajar dari rumah.

Untuk membantu kebijakan pemerintah dalam menerapkan pembatasan sosial khususnya dalam pembelajaran di rumah tentunya teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memainkan peran yang sangat besar untuk mendukung penggunaan berbagai platform untuk e-learning, jalur komunikasi (social media, email, video conference), dan konten pembelajaran berbasis digital.

Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Ilham A Habibie menuturkan bahwa pada diskusi TIK-Talk#18 ini, membahas tentang penggunaan TIK dalam pendidikan atau yang dikenal dengan pembelajaran jarak jauh (distance learning).

“Saya kira memang bukan suatu hal yang baru untuk kita, yang baru adalah cara dari segi pengajaran dan peserta didiknya yang belum berpartisipasi sepenuhnya menggunakan TIK saat PSBB diberlakukan. Selain itu, distance learning ini perlu dioptimalkan dengan berkerjasama dengan operator telekomunikasi dalam menyediakan konektivitas yang menjadi bagian dari diskusi saat ini,” tuturnya saat membuka acara diskusi TIK-Talk#18 dengan tema Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Operator Telekomunikasi dalam Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa PSBB, Kamis 9 April 2020 secara virtual.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komputer Indonesia (APTIKOM) yang juga Anggota Tim Pelaksana Wantiknas, Prof. Zainal A. Hasibuan, pembelajaran jarak jauh di masa PSBB ini, masih menghadapi beberapa tantangan, baik dari kebijakan yang tidak tegas mengenai pembelajaran di rumah secara online, kultur belajar secara mandiri belum sepenuhnya terbentuk, dukungan infrastruktur TIK yang belum merata, konten pembelajaran digital yang masih sangat minim. Di samping itu, ada yang beranggapan bahwa belajar secara online learning seolah-olah akan menggantikan pembelajaran secara tradisional, sehingga enggan melaksanakan kebijakan belajar di rumah tersebut. 

Prof. Zainal A. Hasibuan juga memandang situasi disruptif yang dipicu Revolusi Industri 4.0, penyebaran Covid-19, dan keluarnya kebijakan PSBB, mendorong terjadinya percepatan perubahan transformasi digital di Indonesia. Percepatan perubahan transformasi digital tersebut mencakup hampir disemua sektor, yakni pemerintah, industri, pendidikan, kesehatan, pertanian dan lain-lainnya.

“Untuk itu diperlukan sosok pemimpin yang kuat yang memiliki visi transformasi digital dan mempunyai digital mindset, sehingga transformasi digital berproses sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing lokasi, organisasi sampai transaksi,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, Prof. Zainal A. Hasibuan juga menekankan pentingnya perubahan dalam model bisnis, dan proses bisnis, yang mau tidak mau harus cepat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sebagai dampak dari disruptif ini. Perubahan model bisnis, dan proses bisnis ini tidak perlu menunggu semua komponen yang diperlukan tersedia sepenuhnya, melainkan perubahan tersebut akan berevolusi sesuai dengan tingkat kematangan perubahan dalam transformasi digital tersebut secara berkelanjutan.

Adapun dalam proses pembelajaran jarak jauh, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemdikbud, Prof. Nizam mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh sudah sangat lama diluncurkan (sekitar 2013) dan Kemdikbud sudah bekerja sama dengan beberapa penyedia layanan internet baik di luar maupun di dalam negeri, dalam kegiatan seperti GDLN dan INHERENT.

“Tahun lalu Dikti-KemenristekDikti juga sudah merilis Indonesia Cyber Education (ICE) sebagai platform untuk MOOC Indonesia, selain itu juga disiapkan penggunaan blockchain yang dapat diakses oleh seluruh perguruan tinggi dan bekerjasama dengan Google untuk model pembelajaran berbasis daring,” katanya. 

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah menegaskan dirinya mendukung secara penuh proses pembelajaran jarak jauh melalui infrastruktur yang secara terus menerus para operator telekomunikasi akan siapkan secara maksimal.

Diskusi TIK-Talk
Diskusi TIK-Talk merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (WANTIKNAS) sebagai pelopor Transformasi Digital di Indonesia. Acara diskusi ini diselenggarakan dalam rangka melakukan kajian, evaluasi, dan menetapkan langkah - langkah penyelesaian masalah strategis di bidang TIK dengan mengundang narasumber dan moderator dari kalangan ahli, pakar dan profesional dibidangnya.
 

Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi:
Desy Septiyani
Phone    : 0856-5983-7637
Email    : desy.septiyani@wantiknas.go.id, desy.wantiknas@gmail.com
Public Relations Dewan TIK Nasional
Graha MR 21. Lt. 6. Jl. Menteng Raya No.21, Jakarta Pusat Telp/Fax: 021 - 39831983

Beri rating artikel ini:

https://github.com/igoshev/laravel-captcha

Berita Terbaru

Berita terbaru dari Wantiknas