20 October 2018
Diskusi Sambil Minum Kopi Karir di Bidang TIK adalah Karir yang Menjanjikan

Diskusi Sambil Minum Kopi: Karir di Bidang TIK adalah Karir yang Menjanjikan

Pembahasan terkait isu TIK mungkin memang akan terdengar cukup membosankan. Selain memang isunya yang hanya dimengerti oleh segment tertentu saja, umumnya cara penyampaiannya dikemas dengan cara yang cenderung konvensional, seperti seminar maupun loka karya. Atas dasar itu pada Jumat (4/08) lalu, Dewan TIK Nasional (Wantiknas) menginisiasikan sebuah sesi diskusi ringan yang diberi nama Warkopnas atau Warung Kopi Nasional, di bilangan Jakarta Selatan. Kegiatan ini memiliki tujuan yakni untuk memfasilitasi berbagai asosiasi di bidang TIK untuk dapat berdiskusi bersama. Filosofi “warung kopi” digunakan untuk melambangkan bahwa diskusi itu tidak melulu yang berbau resmi dan kaku, karena terbukti, melalui forum santai pun bisa.

Pada kesempatan tersebut, beberapa asosiasi dan organisasi di bidang TIK juga turut mengutus perwakilannya untuk hadir. Sebut saja Victor dari LSP Telematika, Kusmanto dari AOSI, Alex dari ACCI, Setyo Harsoyo dari idEA (Asosiasi e-Commerce Indonesia), dan masih banyak lagi.

“Warkopnas ini bertujuan membahas isu TIK bersama asosiasi dan asosiasi dengan suasana yang lebih cair sehingga permasalahan yang terjadi dapat digali lebih dalam,” ujar Gerry Firmansyah selaku Ketua Koordinator Tim Sekertariat Wantiknas ketika membuka sesi Warkopnas lalu.

Sesi diskusi yang berlangsung kurang lebih selama dua jam ini merupakan kolaborasi Wantiknas dan Komite Penyelenggaraan TIK (KPTIK) untuk membahas seputar permasalahan di bidang TIK yang kurang di-highlight namun berdampak cukup besar, yaitu terkait sumber daya manusia di Indonesia yang belum mampu memenuhi kebetuhan industri baik itu di bidang teknik, engineering, dan pemanfaatan TIK di bidang bisnis. KPTIK kemudian mengemukakan bahwa salah satu solusi untuk mengatasinya adalah dengan memberikan pengetahuan TIK kepada siswa SMK, yang notabene telah berjalan hingga saat ini. Termasuk diantaranya adalah program pengajaran yang diinisiasi oleh KPTIK guna mendorong program pemerintah terkait ekonomi digital.

“Program ini bernama Kelas Industri, tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi satu juta SDM TIK di Indonesia. Potensi ini sendiri di luar kelompok yang memang mampu untuk mendapatkan akses lebih di bidang ilmu TIK tersebut, seperti mahasiswa misalnya. Karena itu KPTIK merancang program Kelas Industri untuk meratakan pengetahuan seputar TIK untuk seluruh kalangan. Dari segi kurikulum, proses pembelajaran dan target kompetensi kelulusannya pun berbeda dengan modul yang lama. Kali ini modulnya lebih menitikberatkan dan spesifik di bidang TIK, khususnya digital marketing,” papar Dedy Julianto selaku ketua KPTIK.

Dedy juga menjelaskan bahwa program Kelas Industri memiliki misi untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia yang melek teknologi untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), karena memang pada dasarnya dibutuhkan anak muda berpotensi untuk menggerakkan dunia digital tanah air. Hal ini sesuai dengan Perpres No. 96 terkait Rencana Pita Lebar yang notabene adalah bagian dari program kerja Wantiknas untuk memastikan eksekusinya berjalan. Oleh karena itulah pengembangan potensi SDM merupakan salah satu hal yang krusial di industri TIK. Beberapa program kerja pun dibentuk untuk pengembangan SDM seperti bekerjasama dengan Kementrian Tenaga Kerja guna membuat program pelatihan untuk lususan SMK, menyiapkan modul pembelajaran agar cara pengajaran para guru dapat berubah dan menghasilkan siswa yang siap bekerja.

Selaku Ketua Tim Pelaksana Wantiknas, Ilham Habibie mengemukakan dukungan positifnya terhadap program Kelas Industri oleh BPTIK ini.

“Saat ini memang diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas SDM yang mencukupi dan yang memiliki kemampuan untuk posisi di strata atas. Selain itu para rapat kerja tahunan, Pak Presiden juga meminta KADIN (Kamar Dagang Indonesia) untuk fokus pada pelatihan profesional khususnya vokasi training yang disesuaikan untuk meningkatkan sektor pariwisata. Saya rasa program ini sudah cukup in-line dengan arahan tersebut,” tutur Ilham.

Menanggapi hal tersebut, Victor dari LSP Telematika mengatakan bahwa salah satu permasalahan TIK di Indonesia memang adalah Indonesia tidak memiliki grand design jangka panjang. Hal ini berdampak pada penyusunan kurikulum kompetensi yang notebene memiliki tantangan dikarenakan arahan dari pihak atas sering kali berubah.

“Program Kelas Industri ini baru berbicara level digital marketing atau level teknis saja, belum sampai level strata tinggi. Namun memang sulit untuk melihat di mana SDM kita akan berperan di dunia bisnis. Maka dari itu diperlukan role model yang nantinya dapat diadopsi secara keseluruhan, karena pada dasarnya karir di bidang TIK adalah karir yang menjanjikan,” ujar Victor menambahkan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa awareness terhadap infrastruktur TIK terlihat masih belum cukup. Pemahaman terhadap TIK memang masih kurang dalam pengambilan kebijakan, sedangkan yang terjadi di negara maju adalah pemerintahnya sudah lebih reliable menempatkan TIK sebagai top concern. Berdasarkan Perpres No. 96 tahun 2014 tentang rencana Pitalebar Indonesia, tahun 2019 nanti adalah target dimana infrastruktur TIK sudahter-cover semua. Oleh karena itu memang akan lebih baik jika SDM sudah dipersiapkan untuk mengisi konten dari infrastruktur yang nantinya akan ada.

Untuk menutup sesi diskusi dan minum kopi bersama ini, Ilham Habibie selaku Ketua Tim Pelaksana Wantiknas menekankan kembali bahwa Warkopnas memiliki objektif untuk memudahkan koordinasi pihak-pihak terkait guna merumuskan dan mengkaji solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan di bidang TIK.

“Warkopnas ini bertujuan untuk mengangkat isu TIK dan Wantiknas memiliki tugas untuk melakukan koordinasi dengan stakeholder perihal permasalahan isu TIK yang bersifat lintas sektor. Nantinya diharapkan pertemuan diskusi yang bersifat santai seperti ini dapat diadakan secara rutin. Sehingga masing-masing asosiasi secara bergiliran dapat memaparkan konsentrasi permasalahan TIK yang mereka angkat,” tutup Ilham lalu sembari menyeruput kopinya. (PP/FS)