10 December 2018
Peran Big Data Sebagai Solusi Perbankan Cegah Kredit Macet

Peran Big Data Sebagai Solusi Perbankan Cegah Kredit Macet

Bisnis perbankan sejatinya bergantung pada evaluasi risiko dan tindakan yang diambil berdasarkan insight yang didapat. Aktivitas perbankan yang bervariasi dan terus mengalami perubahan berimbas pada dihadapkannya industri ini dengan risiko yang semakin kompleks. Padahal, pengelolaan ­­risiko sendiri membutuhkan data yang komprehensif dalam penerapannya. Secara teori, semakin banyak informasi yang diperoleh maka semakin baik pula penilaian risiko yang dihasilkan. Karenanya, kemampuan untuk memanfaatkan kumpulan data yang lebih beragam dapat mendukung sang decision-makers untuk mengurangi kerugian dengan mengelola risiko dan meningkatkan pendapatan dengan menyoroti peluang bisnis yang ada.

Menurut laporan dari The Economist Intelligence Unit pada tahun 2014, 51% eksekutif perbankan di tingkat global menilai data yang tidak memadai sebagai faktor utama dari kegagalan pengelolaan risiko. Survei mengenai bank ritel dan big data ini disponsori oleh SAP, dan diberikan kepada 208 eksekutif di bidang risk management dan compliance di bank ritel, komersial dan investasi di seluruh dunia. Laporan ini mengungkap bahwa meski kebanyakan bank telah memanfaatkan penggunaan data untuk membangun risk profile, hanya 42% yang meyakini bahwa mereka memiliki alat yang tepat untuk mengintegrasikan data yang diperoleh. Sedangkan disaat yang sama, likuiditas dan risiko kredit merupakan tantangan terbesar yang akan dihadapi industri perbankan hingga tiga tahun ke depan. Maka dari itu, teknologi big data dan alat analisis terkait membantu industri perbankan berinovasi sekaligus memberikan keuntungan dalam berkompetisi.

Laporan yang disertai video motion graphic untuk mengilustrasikan peran big data dalam perbankan ini, menjelaskan bagaimana para eksekutif menilai keunggulan dan manfaat pengaplikasian big data dari berbagai sisi. Seperti bagaimana big data mengaitkan perkara eksternal yang sekilas tampak tidak terkait secara real time (46%), serta memprediksi jumlah biaya yang dibutuhkan dalam situasi pasar yang penuh tekanan (44%). Namun diantara kesemuanya, para eksekutif menyebutkan bahwa manfaat big data yang paling berguna adalah untuk mencegah terjadinya credit fraud dan default loan. Sebanyak 45% responden mengaku pengaplikasian big data membuat proses verifikasi transaksi mencurigakan menjadi relatif lebih singkat. Dalam hal ini, big data juga membantu bank untuk memantau perilaku peminjam dan mengantisipasi atau merespon risiko yang dapat muncul nantinya.

Namun demikian, Erica Klein selaku editor laporan ini menegaskan bahwa pengaplikasian big data tidak lantas usai sampai disitu. “Masih ada tantangan dalam menerapkan hasilnya untuk memberikan kinerja manajemen risiko yang superior, terutama terkait likuiditas dan risiko kredit,” terangnya.

Sumber: The Economist Intelligence Unit