20 October 2018
Ancaman Keamanan Data Pribadi Ketika Menggunakan Akses Internet Gratis

Akses Wi-Fi Publik Mudahkan Pengguna Terkena Serangan Siber

Memasuki era digital, bisa dibilang berbagai aspek dalam kehidupan menjadi sangat bergantung pada internet. Mengapa tidak? Segala informasi bisa ditemukan dengan mudah dan cepat hanya dengan menjelajahi laman-laman yang direkomendasikan oleh mesin pencari.  Tentunya hal ini tidak lepas dari jaringan atau koneksi untuk mengakses internet, yang juga menjadi faktor fundamental dalam proses digitalisasi.

Dewasa ini, akses internet bisa dengan mudah ditemukan di mana saja. Tak perlu jauh-jauh mencari, perangkat ponsel pintar pun sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk membuka jaringan akses internet. Namun demikian, salah satu penyedia koneksi yang paling digemari masyarakat adalah Wi-Fi publik. Selain bersifat free atau gratis, umumnya Wi-Fi publik juga memiliki kecepatan yang cukup mumpuni untuk mengunduh atau mengunggah file berukuran besar. Fasilitas akses internet yang kerap ditemui di kafe dan bandara ini biasa dimanfaatkan untuk bekerja atau sekadar menghemat kuota internet seluler.

Meski memiliki segudang manfaat, perlu dicatat bahwa Wi-Fi publik memiliki risiko keamanan yang tinggi. Saat menggunakan fasilitas ini, data penting dan pribadi milik penggunanya sangat rentan terekspos, terutama saat digunakan untuk mengakses email, membuka situs berisi data sensitif, ataupun berbelanja online.

Sifat jaringan Wi-Fi publik yang terbuka menyebabkan perangkat penggunanya mudah disusupi peretas. Salah satu yang paling umum adalah metode man in the middle, metode ini memungkinkan peretas menjadi perantara diantara komunikasi perangkat pengguna dan jaringan internet. Jika berhasil, peretas mampu merekam seluruh aktivitas yang pengguna lakukan. Dengan begitu, peretas dapat dengan mudah mengakses hal-hal yang bersifat pribadi, seperti foto dan dokumen penting. Bahkan, dalam kasus yang cukup serius, peretas mampu mengambil informasi perbankan penting dan melakukannya untuk transaksi ilegal dengan identitas pengguna. Hal ini lebih dikenal dengan istilah identity theft.

Sayangnya, mesti penggunaan Wi-Fi publik memiliki risiko keamanan yang nyata, tidak sedikit pengguna yang mengabaikan fakta ini. Sebuah survey yang dilakukan oleh Norton Cybersecurity pada tahun 2016 menyebutkan bahwa 40% dari 17.000 pengguna internet di 17 negara lebih mencemaskan bakteri yang ada di toilet ketimbang bahaya serangan siber. Cukup mencengangkan, bukan?

Memang, tidak semua Wi-Fi publik memiliki risiko. Para penyedia jaringan akses internet tentu terus memperbaharui sistem kemanan mereka. Namun demikian, dengan semakin canggihnya teknologi, peretas pun akan semakin ahli dalam memecahkan kode keamanan yang telah diatur sedemikian rupa. Semua tentu kembali lagi pada kebijaksanaan masing-masing pengguna saat memanfaatkan fasilitas umum ini. (pp/fs).

 

Sumber: CNBC