24 July 2017
Kehadiran para ahli TIK di Indonesia saat ke kantor Wantiknas di Jakarta (13/2/17)
Kehadiran para ahli TIK di Indonesia saat ke kantor Wantiknas di Jakarta (13/2/17)

Indonesia Guncang Dunia, Kompetisi Berinternet yang Baik untuk Pelajar

Sore itu (13/2/2017), Wantiknas kedatangan tamu dari Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK), Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII), Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO), Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI) dan Asosiasi Pelajar Wirausaha Indonesia (APWI).

Isu TIK (Teknologi, Informasi dan Komunikasi) seperti perkembangan 4G LTE, broadband, smart city menjadi topik diskusi pada pertemuan tersebut. Tak ketinggalan pula wacana pembentukan NG-CIO (National Government Chief Information Officer) yang diharapkan bisa menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan isu-isu TIK Nasional.

“Wantiknas sudah merekomendasi kebutuhan NG-CIO sebagai solusi menyelesaikan permasalahan TIK dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden”, demikian Garuda Sugardo membuka diskusi.

“Salah satu isu sektor TIK nasional yang memerlukan keputusan dari seorang NG-CIO adalah kebijakan moratorium pembangunan infrastruktur seperti data center”, lanjut Garuda.

Fokus lain yang menjadi bahasan sore itu adalah bagaimana agar industri menengah kebawah yang ada di Indonesia mampu meningkatkan daya saingnya di era digital saat ini.

“Bila kita flashback melihat sejarah krisis ekonomi, yang masih bertahan adalah home industry. Namun melihat jaman digital sekarang, home industri yang memanfaatkan kemajuan TIK masih belum terlihat”, kisah Dedi Yudiant, Ketua KPTIK.

“Untuk itu dibutuhkan wadah untuk penggiat home industry berbasis TIK kita kumpulkan dan kita terapkan bersama. Peluang home industry digital terlihat besar”, sambungnya.

Kesiapan beberapa kabupaten/kota di Indonesia menuju smart city, perlahan namun pasti kini sudah mulai merambah pada sektor industri kecil dan menengah. Ilham mencoba memberikan contoh bagaimana sektor UKM berkembang di manca negara.

“Seperti halnya di Amerika Serikat, home industri di sana tidak diatur oleh pemerintah, namun bisa berkembang dengan cepat”, kata Ilham.

“Contoh lain di negara Swedia, pemerintah memiliki regulasi yang mengatur industri kecil, namun aturan tersebut tidak mengikat”, sambung Ilham yang sudah tiga tahun menjadi Ketua Timlak Wantiknas.

Adapun kehadiran Petrus dari Asosiasi Pelajar Wirausaha Indonesia, tak lain dan tak bukan adalah mengharapkan adanya dukungan dari para ahli TIK dan dari Wantiknas sebagai lembaga multi-stakeholder.

“Banyak hal positif yang bisa dihasilkan dengan perkembangan internet, salah satunya mengembangkan bisnis secara online. Namun tidak bisa dipungkiri internet juga berpotensi menjerumuskan penggunanya ke hal-hal yang negative, terutama kalangan anak muda dan pelajar di Indonesia.”, curhat Petrus.

“Untuk itu, kami berharap dukungan dari bapak dan ibu sekalian agar kami bisa memanfaatkan internet dengan baik dan positif”, imbuhnya.

Hal ini ditangkap dengan baik oleh KPTIK dan Wantiknas, salah satunya dengan menyelenggarakan kompetisi Indonesia Guncang Dunia (IGD 2017) yang rencananya akan terselenggara pada Maret hingga Mei 2017 ini. Tak tanggung-tanggung, hadiahnya yaitu “jalan-jalan” ke Silicon Valley San Fransisco USA.

IGD merupakan kompetisi untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas siswa SMK dan komunitas TIK dalam membuat materi sosialisasi, promosi, dan publikasi dalam bidang pemasaran digital.

“Masalah SDM di sektor TIK di Indonesia masih lemah. Sebagai SDM paling besar, kita perlu menyasar siswa SMK. Untuk itu, kita mulai coba membangkitkan kesadaran internet positif itu lewat mereka,” ujar Dedi Yudiant, mensosialisasikan IGD ke Wantiknas.

Ilham Habibie menjadi salah satu dewan juri dalam kompetisi ini. Beliau menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan positif yang diselenggarakan oleh para expert TIK yang tergabung dalam KPTIK untuk terus mengadakan pertemuan rutin guna membahas perkembangan sektor TIK.

“Kami harus selalu tahu dan update situasi industri TIK nasional sehingga perlu saling berkoordinasi dan berdiskusi secara informal dengan teman-teman ahli TIK. Tujuannya, agar selalu mendapat informasi terbaru terutama soal tren ekonomi yang berkaitan juga dengan teknologi”, jelas Ilham.

“Kolaborasi disiplin ilmu yang teknis dengan yang non teknis itu sangat penting”, pungkas Ilham. (sb/fs)