24 July 2017
Foto: Carl Court/Getty Images/
Foto: Carl Court/Getty Images/

Begini Rencana Kominfo Bikin Aturan untuk Whatsapp cs

Jakarta – Ketika semua akses telekomunikasi telah menggunakan jaringan berbasis data, maka mau tak mau Kementerian Komunikasi dan Informatika harus segera menerbitkan aturan mainnya. Khususnya, untuk penyelenggara Over the Top alias OTT.

“Mudah-mudahan, aturan untuk OTT ini bisa segera kami keluarkan,” kata Achmad Ramli, Dirjen Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo dalam diskusi INDEF di Hotel Intercontinental, Jakarta, Kamis (3/11/2016).

Menurutnya, geliat OTT patut diwaspadai, khususnya OTT asing seperti Google, Facebook, dan sejenisnya. Apalagi, OTT sudah ikut merambah ranah telekomunikasi berbasis data alias IP based. Misalnya, Whatsapp, Line, dan BlackBerry Messenger (BBM).

“Kalau kita sedang di luar negeri, apa kita masih ada yang menelepon rumah dengan nomor seluler? Pasti kita menggunakan Whatsapp Call atau Line untuk menelepon dengan akses Wi-Fi yang ada di hotel,” kata Prof Ramli, panggilan akrabnya.

Lalu, kenapa OTT patut diwaspadai? Ramli menjelaskan, OTT itu ibarat parasit bagi industri telekomunikasi. Mereka tidak ikut membangun infrastruktur jaringan di Indonesia, tapi mereka terus meraup keuntungan besar, dari sisi iklan, misalnya.

“Ibaratnya, operator yang bangun jalan tol, dan OTT ini seperti rest area yang menikmati keuntungan dari jalan tol itu. Tapi masih lebih mending rest area yang punya izin, bayar sewa, dan bangun tempat. OTT ini kan tidak ada kontribusinya sama sekali,” sesal Ramli.

Menurutnya, usaha minim modal para OTT itu dikarenakan akses internet tanpa batas yang minim regulasi. Itu sebabnya, Kominfo tak mau OTT lepas tangan begitu saja. Setidaknya di masa depan, bakal ada aturan yang mengikat para OTT ini untuk memberikan kontribusi dan mempertanggungjawabkan data pelanggan yang dikuasainya.

Pasalnya bukan apa-apa, keuntungan yang sudah diraih OTT itu begitu besar. Dalam data yang dipaparkan Ramli, Facebook saja tahun ini meraih pendapatan Rp 19,8 triliun. Sementara Whatsapp yang juga dimiliki oleh Facebook, meraup Rp 88,4 triliun dari 900 juta pengguna.

Sedangkan Google, tahun lalu memperoleh pendapatan Rp 234 triliun dengan laba bersih Rp 51,9 triliun. Ia pun membandingkan dengan Telkomsel yang hanya meraih pendapatan Rp 48,84 triliun dengan laba bersih Rp 7,45 triliun.

Sementara Line, pada 2014 dengan 150 juta pengguna bisa membukukan pendapatan Rp 86,5 triliun. Kemudian WeChat Rp 52,5 triliun, dan Yahoo yang dikunjungi 700 juta orang meraih Rp 702 triliun. “Bahkan BlackBerry yang sekarang drop saja di tahun 2013 sempat meraih pendapatan Rp 952 triliun dari 76 juta pengguna BBM,” ungkap Ramli. (rou/fyk)

Achmad Rouzni Noor II – detikinet

Kamis, 03/11/2016 18:32 WIB

Sumber berita : inet.detik.com